Berita Jawa Pos berbau SARA

[ Selasa, 26 Agustus 2008 ]
Kejar Setoran Jelang Ramadan

PALEMBANG – Bulan Ramadan segera tiba. Pemerintah Palembang melarang pekerja hiburan, termasuk pelacur, beroperasi selama bulan tersebut.

Efeknya, beberapa hari menjelang Ramadan, para pelacur itu ngebut menambah penghasilan. Apalagi, mereka juga harus bersiap menghadapi Lebaran yang diidentikkan dengan pengeluaran ekstra. [...]

-Berita Selengkapnya baca di Jawa Pos-

Tulisan di atas adalah penggalan berita dari Jawa Pos. Sekilas tampak biasa-biasa aja. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi coba baca sekali lagi dengan cermat. Terutama pada bagian: “Apalagi, mereka juga harus bersiap menghadapi Lebaran [...]“. Potongan kalimat tersebut berhubungan dengan kalimat sebelumnya yang berbunyi: “[...] para pelacur itu ngebut menambah penghasilan.”

.

.

.

Semua Pelacur = Merayakan Lebaran (= Muslim)

Nah, kalimat di atas ini yang sebenarnya ingin dikatakan oleh penulis berita tersebut. Dengan sembrono sekali wartawan Jawa Pos membuat generalisasi bahwa semua pelacur yang ngebut menambah penghasilan tersebut semata karena harus bersiap menghadapi lebaran!

Siapa lagi yang bersiap lebaran kalau bukan Muslim?

Editor Jawa Pos harusnya ikut memantau berita yang akan diterbitkan. Tulisan tersebut jelas menyudutkan umat Islam. Apakah sebelumnya mereka sudah menanyai pelacur-pelacur itu satu-persatu sehingga berani mengatakan mereka ngebut karena ingin mempersiapkan lebaran?

.

.

.

Terus terang saya tidak habis fikir mengapa koran sekelas Jawa Pos bisa melakukan kecerobohan seperti itu. Atau karena saya saja yang berfikir terlalu jauh, padahal maksud Jawa Pos tidak seperti itu?

Ada yang bisa bantu menjelaskan?

37 thoughts on “Berita Jawa Pos berbau SARA

  1. Pingback: Jawa Pos ngawur! « Deteksi

  2. Cebong

    begini mas det
    menurut hemat saya, jika kita berpikiran pendek, hanya akan membaca berita itu sekilas, akan mengaggap wajar, itu hanya generalisasi bahasa, dan pembaca tentunya mikir sendiri, yg ngerayain y pelacur yg agamanya Islam, tpi bukan berarti semua pelacur beragama Islam.
    Namun jika kita telusuri lebih dalam, apa yg saudara det katakan tidaklah salah. Cara anda menarik kesimpulan pun tidaklah salah *sekali lagi ini menurut hemat saya lho*
    Dan seperti halnya anda yang menduga duga, justifikasi apa yg dimaksudkan oleh sang wartawan, si wartawan mungkin pula men justifikasi bahwa apa yg ia tulis tanpa maksud mendiskriminasikan.
    Jadi memang, kita tidak bisa memastikan secara pasti *sek sek aku nggolek penutup e komeng ku*
    Jadi saya sangat setuju dengan pesan terakhir anda, bahwa perlunya konfirmasi, bukan saling menjustifikasi. Dan bagi para wartawan, agar lebih berhati hati dalam menggunakan bahasa dengan memperhatikan penarikan kesimpulan kata.

    *byuh, aku sek tas nglindur opo wi mau xxixixixxixxix

  3. tu2t

    Terus terang saya tidak habis fikir mengapa koran sekelas Jawa Pos bisa melakukan kecerobohan seperti itu. Atau karena saya saja yang berfikir terlalu jauh, padahal maksud Jawa Pos tidak seperti itu?

    IMHO..
    kalo saiyah mah gak heran dengan pemberitaan JP.. pemberitaan JP cenderung provokatif dan memberatkan/menguntungkan salah satu pihak..

    dan satu lagi.. JP berangkat dari sebuah “koran kuning”.. alias koran yang menjual berita2 dengan bahasa bombastis (semacam Memo dan Pos Kota).. dan pemberitaan “gak penting” seperti itu memang jadi jualannya JP..

    yah.. sorry kalo menyudutkan JP..
    tapi kalo gak percaya, coba dianalisis degh berita2nya sesuai dengan kaidah jurnalistik yang berlaku.. mulai dari 5W+1H ampe diksinya..

    intinya.. kita sebagai pembaca, harus menjadi pembaca yang cerdas.. okey ;)

    CMIIW..

  4. det Post author

    @cebong: thanks bong tambahannya..

    @tutut: pembaca cerdas = kritis?!

    @Joko: wahahaha… ato jangan2 roh memo masuk JP?

    @Ulan: hehe juga :)

    @kucluk: kalo berita boleh ngomong sembarangan ya cluk?!

    @anang: golek duit apa harus menghalalkan segala cara?

    @arifudin: iyap betul mas!

  5. Oemar Bakrie

    Mungkin maksudnya lebaran dalam arti yg luas (seperti mudik dll.) sudah jadi tradisi kebanyakan orang Indonesia, tidak hanya orang Islam saja. Sekedar opini saja Mas Det …

  6. erander

    Semua tergantung dari sisi mana kita melihat atau menilai. Memang menyakitkan kalo’ fakta-nya memang seperti itu, mereka ngebut mencari setoran karena mau merayakan hari raya. Tapi, kalo kita menutup mata dengan fakta tersebut, kita juga tidak mendapatkan informasi. Mungkin tata bahasa atau penyampaiannya yang seharusnya tidak terlalu vulgar. Mungkin ada blogger yang bisa membantu menulis kalimat yang ‘menyenangkan’ semua pihak?

  7. Epat

    semakin ngawur kan bakal semakin terkenal. bukankah itu ada di mata kuliah ilmu komunikasi? buktinya diterapkan dengan sempurna oleh sang pakar itu. hahaha

  8. aRuL

    sy sering mendapatkan tulisan2 bermakna ambigu di koran termasuk jawapos..
    seperti sekarang sudah tidak diperlukan lagi editor tentang ambiguitas itu :D

  9. det Post author

    @oemar bakri: kalo begitu, kenapa kok ditekankan ke pelacur saja ya pak? bukankah di kalimat sebelumnya pelacur itu hanya bagian dari pekerja hiburan

    @gajah: marhaban yaa ramadhan.. ;)

    @erander: bukan masalah informasinya pak, tapi penyampaian yang bias, apakah informasi itu fakta atau generalisasi ngawur dari si penulis. apakah faktanya semua pelacur itu mau lebaran (artinya dia muslim)? kan bisa saja karena bulan ramadhan ditutup maka dia mempersiapkan tabungan buat sebulan kedepan (artinya ada juga yang non muslim).

    @epat: anjing menggigit manusia itu bukan berita. manusia menggigit anjing baru berita. ato: bad news is good news. begitu? kalo begitu, berarti sampeyan sepakat dengan si wartawan. bahwa yang disampaikan itu benar-benar berita (fakta) ;)

    @arul: kok menurut saya itu bukan ambigu ya rul, tapi ngawur! :mrgreen:

  10. mbah sangkil

    Menurut opini saya

    saya yakin jawapos tidak akan berusaha mengarahkan pemberitaannya kepada hal-hal yg berbau sara dan apa yg tertulis disana hanya sekedar gaya bahasa para kuli berita. Sama seperti ini det misal “bangsa indonesia dijajah belanda” bukan berarti semua orang belanda menjajah kita kan?

    tentang gaya penulisan, gaya penulisan koran online dan koran offline berbeda. Kalo koran online lebih kepada gaya berita feature dalam arti berita harus sesingkat mungkin, global, tanpa harus mementingkan 5w + 1h, enak dibaca dan masih banyak lagi. kalo koran offline lebih kepada gaya bahasa berita dalam arti semua yg tertulis harus benar-benar sesuai dengan 5w + 1h, informasi yg disampaikan harus jelas dan kalo bisa detil dengan menyebutkan data, narasumber dan dokumen-dokumen pendukung yg terkait, dan masih banyak lagi syarat-syaratnya.

    nah dari 2 gaya bahasa dan cara penulisan berita yg berbeda itu, gaya bahasa penyampaian berita model feature memang besar kemungkinannya untuk terjadi salah pemberitaan, salah nalar, salah penulisan bahkan salah persepsi seperti yg sekarang mas det hadapi :p

    ini sedikit opini saya mas det, opini dari orang yg gak mengerti soal media dan pemberitaan. Berpikir positip aja deh.

  11. galih

    Ah, det, saya rasa kamu agak berlebihan dan terlalu sensitif dalam hal ini. Jika melihat lebih bijak lagi, lebaran di Indonesia bukan hanya sekadar perayaan keagamaan saja tetapi sudah menjadi tradisi bersama. Kalau ditafsirkan, akar kata lebaran bukan turunan langsung dari Idul Fitri yang memang hari raya agama. Konteks lebaran lebih ke sosio-kultural daripada agama. Faktanya, setiap orang merasakan kebutuhan yang naik menjelang hari lebaran (orang non muslim juga), termasuk pelacur juga.

    Kalaupun ada kesalahan kalimat dalam soal generalisasi, saya menilainya masih bisa ditoleransi dengan pertimbangan di atas.

  12. mbelGedez™

    Lebaran dari bahasa Jawa, Bar, Lebar, nyang artinya sudah selesai ato pamungkas.

    Jadi kalok ngerayain lebaran, sayah pikir ya ndak masalah.
    Semuwa orang Indon boleh-boleh ajah dan sah-sah ajah….

    Tapi kalok ditulisnya “merayakeun Idul Fitri”, mungkin urusannya bisa beda…. :mrgreen:

  13. Rindu

    Miris yah membaca judul yang kadang terpampang heboh padahal isinya tak seheboh itu loh … ah pembaca, semoga tidak ikut menghakimi jika ada berita yang bernada menyudutkan.

    *sok tahu mode ON*

  14. tu2t

    membaca dengan cerdas..
    bisa dibilang kritis juga..

    yang penting si pembaca tidak mudah terprovokasi oleh sebuah pemberitaan..

  15. sarinah (nama mal favorit saya yang tak jauh dari bunderan HI)

    saya rasa maksud Jawa Pos ga sampe SARA begitu deh. mas det aja yang ke-PD-an. hahaha..

    begini..
    saya tidak merayakan idul fitri. tapi saya harus “menghadapi” lebaran yang diidentikkan dengan pengeluaran lebih itu.

    ndak semua orang yang “menghadapi” lebaran itu muslim loh. contohnya saya. saya bukan muslim tapi saya harus “menghadapi” lebaran yang diidentikkan dengan pengeluaran lebih itu kok. soal’e kalo lebaran itu musimnya cuti. anak sekolahan juga libur. jadi pengin jalan-jalan.. hehehe

    *sok tau mode ON*

  16. sarinah (nama mal favorit saya yang tak jauh dari bunderan HI)

    di Jawa Pos itu ditulisnya “menghadapi” lebaran bukan “merayakan” lebaran. beda loh “menghadapi” dengan “merayakan”.. mas det jangan suka mengganti-ganti kata yang akhirnya membuat salah paham dong.. gimana sih?
    mas det muslim ya? pasti mas det pernah dong menghadapi hari raya waisak, walaupun ga merayakan waisak. dapat anda bedakan sendiri kan? perbedaan antara kata “menghadapi” dengan “merayakan?” jadi menurut saya tidak ada maksud Jawa Pos menyudutkan muslim.. mas det aja yang salah tangkap.. trus mas det terlampau kreatif mengubah kata “menghadapi” menjadi “merayakan” yang notabene memiliki arti yang jauh berbeda. :)

  17. eeda

    Kl saya mah ga heran. Tiap koran punya stylenya sendiri2. Pangsa pasarnya udah ada. Misalnya koran pos kota tp pake bahasa yang ndakik ndakik /formal seperti kompas malah ga laku. Begitu juga sebaliknya. Jadi, pilihan bahasa/kata yang dipakai JP saya kira sudah diperhitungkan. Di sesuaikan dengan kebanyakan karakter pembaca JP.

  18. vandy

    Kalo menurutku sih maksudnya bukan gitu…
    Mungkin maksudnya kalo idul fitri atau lebaran itu mereka jadi sepi…
    Mungkin begitu…

  19. vin

    mas det…kalo menurut saya…bukan sekali itu JP membuat berita yang ‘rada2′ (ini menurutq loh ya)

    kutipan di atas itu bukan yang pertama yang ‘mencurigakan’ (sekali lagi ini menurut saya)…itu sudah yang kesekian kalinya

    malah saya sempat beranggapan bahwa JP ‘memihak’ sesuatu

    jadinya yah…jangan baca JP saja yah… :D namanya juga koran, pasti ada ‘udang di balik rempeyek’

    *peace*

  20. Vy

    Betul tuh kata vin. Bukan sekali ini JP kayak gitu. Misalnya liputan tentang salah satu wartawan yang berkunjung ke arab saudi. Dari bahasanya tuh ‘rada-rada’ gitu loh.. ^^Lupa tanggal terbitnya. kalau saya nemu, saya post disini deh.
    Kalau Pak Dahlan Iskan tau karyawan JP nya kayak gitu gmn yah? ^^

    Btw, salam kenal mas det. Aslinya saya cuma mau iseng baca, tapi gemes pingin komentar juga ^^

  21. dee

    urun rembug ya mas…
    gatel nih pgn ikutan nimbrung..
    sbg mantan orang dlm yang pnh terlibat scr lgs dlm proses pembuatan brt di koran yang konon beroplah paling gede se Jatim itu..
    uhmm..
    di koran tsb unsur DRAMATIS itu wajib alias harus ada..
    walaupun dlm ilmu jurnalistik ataupun pers..sama sekali ga pnh tercantum unsur yg itu..
    *silahkan ditafsirkan sendiri ya…*

    mslh koran tsb memiham ato tidak..
    ah, rasanya tak ada media yang benar2 netral..

    dan saia sepakat sama njenengan mas det..
    pilihan katanya memang gimana ituuu..
    ya kalo mau iseng cb saja dibandingkan ma diksi yg dipake JP utk menyebut cina..
    mrk sama skali ga pnh menulis bgitu dan lbh memilih tiongkok kan??
    pdhl koran2 laen kebanyakn & pd umumnya memilih menggunakan cina atau china dan bknnya tiongkok..

    tp ya bgitulah koran yg ndilalahnya msh bnyk yg baca ituw..
    kl saia sih..mending baca the jakarta post, kompas, atau majalah tempo ajah deh..
    *huehehehe..guaya bgt..bacaannya sok berad..pdhl aselinya baca kompas ga pnh ampe hbs smua halaman…capek mikirnya..huihihihi*

  22. yahya

    Untuk wartawan jawa pos, mohon lebih teliti dan berhati-hati dalam menulis beritanya.. Anda bekerja di media massa lo! Berita Anda dibaca oleh khalayak luas yang heterogen. Sangat berbahaya jika ada kesalahan-kesalahan kecil atau kalimat yang bersifat ambigu pada pemberitaan. Bisa-bisa terjadi kesalahpahaman massal.
    Perhatikan logika bahasa..
    Saya pernah membaca yang berjudul “Buku Ajar Filsafat Bahasa” karya Prof. Dr. Sumarsono, M. Ed.
    Buku tersebut sangat membantu kita agar tidak kelirudalam menggunakan bahasa.

  23. HAmdani

    menurut saya itu hanya karena logika waktu pendek saja,,,wartawan mendapatkan tekanan dr perusahaan utk sgra mndapat berita, ,sehingga dilapangan wartawan cndrung susah untuk mengaplikasikan etika jrnalstik mreka,,,
    buat tutut,,,emank iya ??? JP brngkt dari koran kuning??
    apakah anda pnya rfrnsi ttng itu??klo boleh saya ingn tahu,,thanks

  24. JUKIPLI

    U AJA YANG HATI N PIKIRANMU TERLALU FANATIK,….TOH MEREKA CARI UANG BUAT KLUARGA MEREKA,..JD JANGN TERLALU SOK BENAR N SUCI,.,…..KLU G BOLEH KERJA SEPERTI ITU YA U CARI SOLUSI DONG BUAT KASI MAKAN KLUARGA MERAKA…..PAYAH ORANG INDONESIA YANG PUNYA HATI SOK SUCI N BENAR,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>