Internet Masuk Desa

Kalau jaman dulu kala ada AMD, sekarang ini ada IMD. Internet tidak hanya milik warga kota. Warga di pelosok desa juga bisa menikmati internet. Seperti yang sedang saya lakukan ini, berinternet ria menggunakan akses mobile internet dari IM3. Saya sedang berada di kampung halaman. Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo.

Ah, apakah karena kebetulan saya membawa peralatan sendiri, laptop dan HP, sehingga bisa mengakses internet dari sini? Tidak juga. Di sekitar sini juga sudah ada warnet. Bahkan warnet di sini jauh lebih bagus dari yang banyak bertebaran di Surabaya. Di sini warnetnya pakai CPU Core2Duo, monitor LCD 17″ dan dilengkapi webcam. Tarifnya hanya 3000 per jam! Kalau di Surabaya, kebanyakan warnet pakai CPU dan monitor bekas. Jarang yang dilengkapi webcam. Tarifnya sekitar 3000 hingga 5000.

Dua tahun lalu saya berfikir, apa laku bikin warnet di sini. Kebanyakan warganya kan petani di sawah. Tidak mengenal komputer, apalagi internet.

Ternyata salah. Banyak pemuda sini yang bekerja sebagai TKI di Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang & Amerika. Gajinya bisa mencapai 50 juta per bulan. Padahal pendidikan mereka hanya SMA. Jangan disangka jadi pembantu rumah tangga. Kebanyakan bekerja di pabrik elektronik. Itu saya ketahui dari perbincangan para orang tua mereka di mushola.

Nah, merekalah, para TKI itu, yang ikut mendorong berkembangnya internet di desa. Sekarang bukan jamannya surat fisik. Tapi email. Untuk menghubungi keluarganya di desa, para TKI tersebut biasa menggunakan email. Kalau hari libur disempatkan untuk chatting. Makanya tidak heran jika warnet di sini memiliki buku daftar antrian. Bisa dipastikan tiap weekend warnet itu fullbooked dari pagi hingga malam.

Warnet tersebut mendapatkan akses dari Speedy. Di Surabaya Speedynya dijamin lemot bin ajaib. Eh di sini kencengnya gak ketulungan. Saya sudah mencoba beberapa kali berinternet di warnet yang ada di desa saya ini. Baru saja saya tekan ENTER eh sudah selesai loading. Padahal warnet dalam keadaan full pengguna. Ya maklum aja, yang lain kan hanya chatting :mrgreen:

Akses pakai mobile internet, meski sinyalnya hanya GPRS, juga kencang. Lebih kencang daripada sinyal 3G IM3 si Surabaya yang biasa saya pakai. Lebih kencang juga daripada Indosat-M2 yang baru saja saya beli yang ternyata tidak bisa dipakai di sini karena tidak ada sinyal 3G dan tidak mengenali sinyal GPRS.

Inilah Internet Masuk Desa! 😉

7 thoughts on “Internet Masuk Desa

  1. nico kurnianto

    maklum mas kan di sana infratrukturnya baru, jadi kabel yang dipakai speedy juga baru… sehingga mendukung internet yang cepat. Kalau di kota kan banyak yang dari jaman belanda masih dipakai aja.

    Hiihihi… yang laen chatting doank… ahhahahaha
    :))

  2. galih

    Boleh juga desamu det! 🙂 Desaku tetep aja meskipun banyak TKI tetep lemot, warnetnya jauh, GPRS juga kembut kembut.

  3. aRuL

    eh kemana2 skrg… tempatku aja… bulan maret lalu blum ada… skrg udah masuk…..
    tapi yg penting ada grps… tempat terpencilpun tetap bisa ngenet…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *