Tarif Internet Turun, Warnet Terancam Bangkrut

M.Nuh Menkominfo telah mengumumkan rencana penurunan tarif internet pasca Pemilu 2009 (Kompas). Masyarakat pengguna internet tentu menyambut gembira sambil menunggu kapan eksekusi dari rencana tersebut. Di sisi lain, pengusaha warnet dibuat ketir-ketir karena hal tersebut bisa mematikan bisnis mereka.

Masyarakat pengguna warnet mungkin akan langsung beranggapan tarif warnet akan otomatis turun mengikuti turunnya tarif koneksi internet. Padahal tarif koneksi internet bukan merupakan komponen biaya utama dalam bisnis warnet, sehingga meskipun tarifnya diturunkan bukan berarti tarif warnet akan otomatis ikut diturunkan karena komponen biaya lain tidak mengalami penurunan. Seperti biaya sewa tempat, biaya listrik, gaji karyawan, lisensi software dan sebagainya.

Menurut perkiraan saya, bisnis warnet akan mengikuti runtuhnya bisnis wartel. Pada masa-masa awal, bisnis wartel sangat menggiurkan. Orang ramai-ramai mendirikan usaha wartel. Kemudian era telepon seluler datang dan tarifnya makin murah. Maka wartel mulai ditinggalkan pelanggannya pelan-pelan. Kalau toh masih ada yang eksis hingga sekarang, jumlahnya sudah tidak sebanyak3 atau 4 tahun yang lalu.

Yang membuat makin surut bisnis warnet bukan dari penurunan profit margin, tapi dari penurunan jumlah pengguna. Saat ini sudah banyak orang punya laptop, atau setidaknya komputer desktop. Awalnya mereka ragu untuk mengakses internet dari rumahnya karena bisa membuat tagihan telepon membengkak. Tapi dengan makin turunnya tarif internet mereka tidak ragu lagi untuk berlangganan internet sendiri di rumah.

Maka para pengusaha warnet harus bersiap sejak sekarang (khususnya warnet yang berada di kota). Siapkan strategi supaya bisnis tetap eksis. Bisa dengan mengusung warnet dengan konsep baru dan bertema atau memindahkan bisnis ke daerah yang tingkat kebutuhan internetnya cukup tinggi, tetapi masih banyak yang belum mampu membeli komputer.

Selamat berjuang! 😉

36 thoughts on “Tarif Internet Turun, Warnet Terancam Bangkrut

  1. ZULMASRi

    risiko dagang mas, apalagi di dunia TI. kayaknya dari dulu memang demikian adanya. jadi ya betul, pengusaha warnet harus bersiap dari sekarang

  2. galuharya

    mungkin salah satu cara supaya warnet ndak ditinggal pelangganya adalah dengan upgrade fasilitas

    yang tadinya hanya pakek kipas angin sekarang mesti pakek AC
    yang tadinya pekek monitor jadul sekarang monitor LCD layak di pertimbangkan

  3. galihsatria

    Setuju. Seperti halnya dulu ketika hampir setiap malam ke wartel sakinah keputih mendial nomor berawalan 0274 dan akhirnya memakai ponsel sendiri. Sekarang sudah nggak pernah lagi ke warnet karena ada koneksi 3G dan GPRS.

  4. Vicky Laurentina

    Mestinya pemilik warnet nggak usah ketar-ketir. Masih banyak kok orang yang perlu komputer sewaan buat main internet. Pebisnis warnetlah yang kudu kreatif. Bisa dengan upgrade AC dan monitor LCD dan welcome drink tadi. Bisa juga banting stir ganti warnet jadi kantin berhotspot..

  5. hendrik

    mudah mudahan tarifnya benar2 turun jadi pengguna dunia Maya bisa lebih menjelajah lagi. trimsss

  6. Nicolas

    tetep maen warnet lebih enak, bisa maen bareng temen. daripada pasang dirumah, udah seperti ga kenal dunia luar.

  7. Buat Pengusaha Warnet

    guna warnet sebenarnya hanyalah sama kek wartel, cuma utk memudahkan bagi yg sering bepergian di luar yg gak punya telp/laptop,mereka yg sring online bukan mutlak hrs selalu prg ke warnet,sama kek telp..kl udah punya telp/hp, dan tarif murah.. gak mungkinlah srh mrk pergi jauh2 lg ke wartel utk telpon.. warnet2 yg di negara luar sana fungsinya hanyalah itu..sadarlah kl pemikirannya hanya takut kehilangan peluangan bisnis di bidang warnet, masih banyak peluang bisnis lain. bukankah wartel jg udah lama lenyap?..tapi apakah itu berdampak besar terhadap ekonomi indonesia?? tak akan majulah indonesia kl masyarakat yg sering online hrs selalu prg ke warnet..

  8. ryan

    buat sharing aja.
    di jepang, pendapatan rata2 per orang sekitar 200 ribu yen. dengan asumsi 1 yen = 100 rupiah, maka sekitar 20 jutaan rupiah per bulan.
    pasang internet di rumah unlimited dengan kecepatan ampe 8.0Mbps cuman bayar 5000 yen = 500 ribu rupiah. saya aja pas dapet koneksi wifi gratis di sana bisa tembus ampe 1,8 Mbps.
    biaya internet rumah di sana amat murah jika dibandingkan dengan penghasilan bulanannya.
    tapi, di sana juga ada warnet yang disewakan untuk publik, dan tetap rame. padahal warnet yang saya samperin harga per jamnya 380 yen (sekitar 38 ribu rupiah).
    kebutuhan berinternet emang makin tinggi. tapi apakah kebutuhan itu diimbangi dengan kebutuhan untuk beli komputer / laptop? emang pendapatan rata2 per bulan orang indonesia sudah berapa sih???

  9. hajime

    Bagi saya sedikit berpengaruh juga bagi bisnis warnet, namun tidak signifikan banget sih. Sebagai gambaran warnet saya. Hampir semua user saya adalah pemakai Speedy di rumah mereka masing-masing. Meski tarif Speedy turun, tapi kan yang rumahan sistem kuota. Sementara warnet tidak. Kecepatan, masih lebih stabil warnet. kemudia di warnet sudah terbentuk komunitas gamer, jadi rata-rata, meski udah punya hape 3G, Blackberry, laptop dgn beragam modem flash, pelanggan tetap aja tuh tergantung sama warnet. Utamanya utk aktivitas loading, update anti virus, upgrade program, mengecek email, upload file2 yang besar. Apalagi utk yg namanya game online.
    Yang bisa saya dapatkan adalah, dengan murahnya koneksi internet, justru akan memperluas pangsa konsumen warnet, krn semua orang tertarik utk online, sementara warnet sendiri harus kreatif agar hardware & software pendukung operasional warnetnya tetap up to date.
    Dan warnet tidak akan mengalami nasib yang sama dengan wartel, karena warnet didukung teknologi utamanya cpu yg terus berkembang utk beragam aktivitas, dan teknologi internet yang bervariasi dan tidak ada matinya. Sementara wartel mati karena, terkalahkan akibat tdk bisa mengikuti perkembangan teknologi komunikasi yg sudah bisa didapatkan dalam bentuk plus seperti sms, video streaming, melalui handphone 3g, dll.

    Namun kita kembali aja ke prinsip manajemen usaha, apabila kita tidak mau berinovasi atau tdk bisa memanage dengan baik, maka usaha apapun pasti tidak akan bisa bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *