Hasil Unas SMA 2009 Amburadul

by det on 17 June, 2009

Sejak awal sudah banyak yang menolak jika UNAS digunakannya sebagai alat penentu kelulusan. Standar nilai kelulusan yang dirasa cukup tinggi mengakibatkan Ujian Nasional dianggap sebagai momok oleh para pelajar SMA. Akhirnya banyak dari mereka yang menempuh jalan pintas dengan mencari bocoran soal atau melakukan kerjasama terstruktur dan masif dalam menghadapi UN tersebut.

hasil unas 2009Diberitakan di berbagai media bahwa sebuah sekolah favorit di Ngawi seluruh siswanya diduga melakukan kecurangan dan akhirnya tidak lulus 100%. Meskipun kemudian dibantah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan bahwa terjadi kesalahan scan dan kemudian diadakan ujian susulan, namun masyarakat terlanjur tidak percaya terhadap kredibilitas Ujian Nasional. Rektor beberapa PTN bahkan mengancam akan membatalkan siswa dari SMA tersebut jika telah diterima di kampusnya.

Menurut ilmu statistik, sesuatu itu bisa dikendalikan jika bisa diukur. Mungkin hal itu juga yang mendasari pelaksanaan Unas. Ingin mengendalikan mutu pendidikan di Indonesia, maka dilakukan pengukuran dengan alat ukur bernama unas. Namun sebelum digunakan untuk mengukur, sebuah alat ukur harus dikalibrasi, dibuktikan kevalidan dan keandalannya dalam mengukur.

Ujian Nasional atau UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah. UN bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. -dikutip dari website resmi BNSP-

Celakanya unas kemudian tidak sekedar digunakan untuk alat ukur, tetapi juga digunakan untuk alat penentu kelulusan sehingga akhirnya proses pengukuran tersebut berjalan amburadul. Jika kemudian didapatkan hasil, maka itu bukan hasil yang sebenarnya. Peta mutu pendidikan yang dibuat akhirnya tidak bisa dipercaya.

Saya sepakat dengan Prof.Ir.Daniel M Rosyid, Ph.D, seorang pemerhati masalah pendidikan, bahwa unas tetap diperlukan untuk memetakan mutu pendidikan secara nasional, tetapi unas tidak boleh digunakan sebagai alat penentu kelulusan. Yang berhak menentukan seorang siswa lulus atau tidak adalah gurunya sendiri dengan mempertimbangkan banyak faktor. Salah satunya adalah proses belajar mengajar selama di sekolah dan di lingkungan.

Pendidikan yang sukses harusnya tidak saja mengantarkan anak didik untuk mencapai nilai akademis yang tinggi, tetapi juga membentuk kepribadian sebagai manusia yang utuh, bermoral dan santun. Dalam hal ini unas malah menjadikan siswa berbuat kecurangan tersistem demi mengejar nilai akademis semata dengan menghalalkan segala cara.

Bagaimana menurut Ki Sanak sendiri?

{ 15 comments… read them below or add one }

1 ajengkol 17 June, 2009 at 5:37 pm

Belum ada nya standar kurikulum yang jelas sehingga evaluasi akan amburadul

2 Generasi Patah Hati 17 June, 2009 at 5:46 pm

UN pancen amburadul Mas.
Payahnya, banyak yang lulusnya karena nyontek dan bocoran, eh waktu lulus pada konvoi gak genah dan corat-coret baju. Lulus gak jujur kok ya pada bangga :lol:

3 Dum 17 June, 2009 at 6:34 pm

fatwakan haram untuk UNAS. yah, setidaknya makruh saja lah. :D

4 Vicky 17 June, 2009 at 8:31 pm

Malu-maluin. Mereka bilang, standar kelulusan udah dinaikin 5%, tapi tingkat kesulitan soal diturunin 5% juga. Jadi soal udah dibikin gampang, tapi masih nggak lulus juga? Itu adek-adeknya aja yang males belajar..

*siap-siap ditimpukin anak SMU*

5 suryaden 18 June, 2009 at 12:20 am

begitulah jika sekolah pake standar perusahaan,… memangnya laku dijual, mending jual aja sekolahannya…

6 mbah sangkil 18 June, 2009 at 6:18 am

ini tetangga ku malah lucu, belum ada pengumuman kelulusan sekolahnya udah ngadain wisuda kelulusan. Berarti sekolahnya percaya dan yakin bahwa muridnya lulus 100%

7 galihsatria 18 June, 2009 at 8:26 am

Buat siswa yang menjalani ujian, nggak usah pusing mikirin itu, just follow the rule, ikuti aturan yang ada se kacau apapun, dapatkan nilai sebaik-baiknya.

8 wahyoe 18 June, 2009 at 9:34 am

kasian buat siswa sma ngawi yang tidak lulus 100% mungkin kita bisa mengambil hikmahnya ;)

9 pakne.galuh 18 June, 2009 at 12:06 pm

mestinya parameter dari kelulusan siswa bukan dari angka-angka saja.

tak menjamin siswa yang punya angka tinggi di UNAS ,juga memiliki attitude yang tinggi

10 gajah_pesing 18 June, 2009 at 4:40 pm

untungnya di jamanku cuma ada ebtanas… yang pasti LULUS tapi danem gak jamin, hahahaha….

11 olip 18 June, 2009 at 4:42 pm

yang penting aku lulus SMA … xixixxi …..

semakin sulit untuk mencapai kata LULUS semakin banyak kecurangan …. he he he he ….

12 sugiman 18 June, 2009 at 9:33 pm

amburadul kaya mukaku waktu abis kecelakaan

mampir mas di “Pengalamanku”

13 Anang 19 June, 2009 at 7:09 am

Ya ngunu kuwi nasipe adik2mu saiki. Ngenes.

14 ndop 21 June, 2009 at 12:42 pm

aku biyen guoblok ae yo lulus kok det… makane saiki aku kuwalat…

15 Aji Pamungkas 24 June, 2009 at 9:52 am

Saya salah satu guru SMA di Kota Yogyakarta dan sebagian masyarakat menempatkan sekolah t4 saya mengajar favorit. kenyataan, memang tidak salah masyarakat memberi predikat itu karena para siswa memiliki attitude menjunjung kejujuran.
tentang Unas, bila tidak dibenahi sistemnya, tunggu aja ibarat bom waktu. terlepas dari itu tugas siswa belajar memperkaya ilmu bersama guru yang mendampingi selalu. apapun namanya ujian kelulusan yang penting kita siap!!!

Leave a Comment

Previous post:

Next post: