Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Preview Diskusi Terbuka “Mewujudkan sekolah bebas dari Kekerasan terhadap perempuan” *)

Meskipun sudah banyak upaya pemerintah maupun masyarakat dalam mengapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Namun jumlah korban kekerasan yang ditemukan masih cukup banyak. Data korban yang didampingi Samitra Abhaya-KPPD sejak tahun 1999 dengan jumlah korban 1 orang, hingga tahun 2009 ini mendekati angka kurang lebih 1000 kasus perempuan dan anak korban kekerasan. Sementara data yang dihimpun Samitra Abhaya-KPPD dari 2 media massa di Jawa Timur,  pada tahun 2007 saja terekam 664 kasus kekerasan yang terjadi di Jawa Timur dengan jumlah korban 1787 orang.

Dari data tersebut sebanyak 24% adalah korban dengan usia anak-anak yang cenderung meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Kendati angka kekerasan terhadap anak-anak tidak pernah lebih besar dari data kekerasan terhadap istri tiap tahunnya, namun hal ini perlu menjadi perhatian bersama, mengingat kekerasan yang terjadi terhadap anak perempuan bukan hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga kualitas kekerasannya. Perhatian terhadap hal ini, juga merupakan salah satu bentuk pencegahan terhadap perempuan korban kekerasan di masa yang akan datang. Sebab pengalaman pendampingan menunjukkan, sebagian besar korban kekerasan pernah mengalami trauma kekerasan di masa kecilnya, demikian pula dengan pelaku kekerasan

Kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa terjadi di ranah privat yaitu dalam konteks relasi personal dan dalam rumah tangga, di ranah publik atau masyarakat, maupun kekerasan yang dilakukan oleh Negara.  Dalam konteks kekerasan terhadap anak perempuan, kekerasan ini muncul dalam beragam bentuk, mulai dari kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, perdagangan anak perempuan, eksploitasi seksual komersil anak, eksploitasi pekerja rumah tangga anak (PRTA), kekerasan masa pacaran, dan lain-lain.

Hal ini muncul karena banyak sebab, diantaranya karena kekerasan dianggap hal yang wajar untuk mendisiplinkan dan mengejar kepatuhan anak, relasi usia yang timpang sementara budaya di masyarakat menempatkan orang dewasa lebih berkuasa dari pada anak-anak, budaya juga mengabaikan (mengangap wajar) perilaku seksual yang cenderung menyukai anak. Selain itu pengetahuan, pemahaman dan kesadaran akan kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja kurang, budaya instan dan komsumtif meningkat, pasar industri pornografi anak & Eska  tinggi, relasi gender yang timpang pada remaja, serta penanganan korban dan penegakan hukum belum maksimal.

Berbagai kekerasan terhadap perempuan dan anak di atas, cenderung melahirkan bentuk kekerasan baru dan dampak yang luar biasa. Misalnya, beberapa anak perempuan korban perkosaan ataupun  perdagangan manusia yang mengalami dampak kehamilan tidak diinginkan, tidak hanya akan mengalami tekanan psikososial yang besar, namun dalam beberapa kasus, menyebabkan akses pendidikannya terpangkas.

Berita di media massa juga menunjukkan, meningkatnya kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungan sekolah maupun ranah publik lainnya. Secara umum kekerasan terhadap perempuan dan anak belum difahami sebagai salah satu bentuk pelanggaran Hak asasi Manusia. Pencegahan dan penanganan korban kekerasan yang merupakan tanggungjawab pemerintah dan masyarakat belum juga melahirkan kesefahaman yang ideal dalam implementasinya.

Padahal selain telah meratifikasi konvensi PBB tentang Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW), pada tahun 2002, Indonesia telah mengesahkan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.  Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara , anak adalah masa depan dan generasi penerus bangsa. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, dan mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi.

Salah satu kendala dalam mencegah secara optimal terjadinya kekerasan terhadap anak khususnya anak perempuan adalah sulitnya menjangkau keberadaan keluarga korban sebagai faktor pendukung utama bagi korban. Aksesibilitas sekolah lebih mudah dibandingkan keluarga, untuk itu sekolah mempunyai peran strategis dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.  Selain itu, Pasal 54 UU Perlindungan anak secara spesifik menegaskan bahwa “anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah  atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya”.

Gambaran di atas menunjukkan pentingnya kerjasama pihak terkait untuk melakukan pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan sekolah. Sehubungan dengan hal itu, dalam rangka memperingati HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN SE-DUNIA yaitu 25 Nopember 2009, Samitra Abhaya Kelompok Perempuan Pro Demokrasi (SA KPPD) bekerja sama dengan Dewan Kota Surabaya akan menyelenggarakan diskusi terbuka dengan tema “Mewujudkan sekolah bebas dari Kekerasan terhadap perempuan”. Tema ini dipilih sesuai dengan konteks kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Jawa timur, untuk merajut kembali komitmen bersama  dalam meningkatkan perlindungan anak perempuan di sekolah dan pemenuhan hak anak atas pendidikan, dengan menitikberatkan ‘pentingnya Pencegahan Kekerasan di lingkungan Sekolah’ . Diskusi terbuka tersebut akan diadakan pada:

  • Hari/tanggal:   Rabu, 25 November 2009
  • Pukul:    13.00 – 16.00 WIB
  • Tempat:   Ruangan Adi Sukadana, FISIP Universitas Airlangga, Kampus B Darmawangsa Dalam, Surabaya

Narasumber:

  1. Samitra Abhaya Kelompok Perempuan Pro Demokrasi
  2. Prof. Zainudin Maliki (Dewan Pendidikan Propinsi Jawa Timur)
  3. Bapak Drs. H. Sahudi, M. Pd (Dinas Pendidikan Kota Surabaya)
  4. Bapak Drs. Suwanto, MSi (Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur)
  5. Ibu Dra Sukesi, Apt, MARS (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Propinsi Jawa Timur)

Bagi yang berminat mengikuti acara tersebut bisa langsung datang ke lokasi atau konfirmasi terlebih dahulu melalui telepon 031-6021 999 8 (Eka atau Dita)

*) disalin dari undangan resmi DKS dengan tujuan memperluas publikasi

14 thoughts on “Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

  1. pakne galuh

    dampak faktor lingkungan yang mempunyai andil besar dalam kejadian ini, dalam hal ini lingkup keluarga yang memegang peranan penting.

    konon jika seorang anak dididik secara keras maka hal itu akan membuat anak menjadi keras dewasa nanti demikian juga sebaliknya.

  2. ye2n

    nice info . .
    I like it, moga acaranya berhasil and sukses . .
    tak kalah pentingnya juga dapat mengurangi tindak kekerasan pada perempuan . .

  3. aLe

    Ta pikir yg buat artikel oM det,
    Bahasanya keren,
    Pengen belajar.

    Kmbl ke topik,
    Tak selamanya kekerasan thdp perempuan itu salah,
    Menurut pandangan dr sudut ‘lain’,
    Tidak keras itu tidak puas,
    Jd jelas, kadangkala kekerasan itu SANGAT DIBUTUHKAN 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *