Titip Tilang, Prosedurnya Bagaimana?

by det on 24 January, 2010

Titip Tilang

Kejadian ini baru saja saya alami sekitar pukul 19.00 tadi, sepulang dari kantor Dewan Kota Surabaya di Jl.Diponegoro 133 hendak menuju kawasan ITS melewati Jl.dr.Sutomo – Polisi Istimewa. Tepat di perempatan Raya Darmo TL menunjukkan warna merah. Roda depan saya berhenti melewati garis marka, sebelum zebra cross.

Dengan gagah berani seorang Polisi keluar dari pos lalu meminta saya menepikan kendaraan. Lalu saya dibawa masuk ke dalam pos dan diceramahi bahwa saya telah melanggar marka. Oleh karena itu saya kena TILANG. Polisi menawarkan dua opsi:

  1. Sidang di PN Surabaya tanggal 12 Februari 2010. Kalau memilih opsi ini SIM saya akan ditahan dan akan diserahkan kembali setelah mengikuti sidang.
  2. Titip Tilang senilai denda atas pelanggaran saya, yaitu sebesar 51 ribu rupiah. Menurut Pak Polisi entah-namanya-siapa itu (tertutup rompi), daripada ribet sidang ke PN ini adalah opsi yang lebih baik jika saya sibuk pada tanggal tersebut.

Sebelum mengambil keputusan, yang pertama saya sadari adalah bahwa memang benar saya telah melanggar marka. Saya harusnya berhenti tidak terlalu depan. Maka saya telah MELANGGAR dan sudah sewajarnya diberi BUKTI PELANGGARAN atau yang lebih kondang dengan sebutan TILANG tersebut.

Untuk melengkapi data, saya bertanya kepada Polisi tersebut dan dijelaskan bahwa saya telah melanggar UU 22/2009 pasal 287 jo (1) 106 jo 17, 19 PP 43. Di dalam buklet yang disodorkan ke saya disebutkan bahwa denda maksimal untuk pelanggaran yang telah saya lakukan adalah sebesar 500 ribu rupiah.

Ya sudah lah, saya pilih membayar denda di tempat sebesar 50 ribu rupiah. Harusnya kan 51 ribu? Iya, tapi saya berikan uang 50 ribu si Polisi tetap mau menerima dan hanya bergumam: “Wah kalo ada 10 orang saja yang seperti ini saya bisa rugi 10 ribu mas”. Setelah uang saya serahkan lalu saya diminta tanda tangan di kertas TILANG warna PUTIH. Entah apa artinya, saya lagi malas mikir karena capek sepulang dari acara 2 hari di Gresik :mrgreen:

Sidang di Pengadilan Negeri Lebih Ribet?

Apakah benar yang dikatakan Polisi tadi bahwa sidang di PN lebih ribet? Setahun lalu saya pernah tertangkap polisi di dekat perempatan Kertajaya – Darmawangsa karena lupa menyalakan lampu depan. Saya pilih sidang. SIM saya disita.

Pada hari H sidang saya datang ke PN Surabaya di Jl.Arjuna. Waw… Antri gak ketulungan! Setelah menghabiskan waktu hampir 1 jam akhirnya saya bisa mendapatkan SIM saya kembali tanpa harus sidang. Hanya setor uang senilai denda atas pelanggaran yang telah saya lakukan. Tanpa proses sidang di depan hakim dan jaksa sama sekali.

Jadi apakah itu tergolong ribet? Menurut saya tidak, hanya saja merepotkan karena harus datang ke PN. Menghabiskan waktu dan tenaga saja!

Ternyata Titip Tilang Sudah Dihapus!

Nah, sesampai di rumah saya baru berfikir, adakah titip tilang itu? Ternyata pada jaman dulu kala memang ada istilah ini dan memang diperbolehkan seorang pelanggar menitipkan denda kepada Polisi yang menangkapnya.

Tetapi menurut hasil penelusuran dengan Google ternyata Polwiltabes Surabaya sudah menghapuskan program ini sejak Februari 2008 lalu dan didukung penuh oleh Polda Jatim. Omaigoooottt…

Jadi Polisi tadi membohongi saya kah?

Belum puas dengan jawaban Google saya bertanya langsung ke Kantor Polsek Gubeng melalui hotline yang tertera di website mereka, yaitu 031-5042704. Telepon saya diangkat oleh Pak Ito (agak kurang jelas penyebutan namanya, terdengar seperti ITO atau GITO). Langsung saja saya tanyakan apakah saat ini masih bisa melakukan titip tilang?

Pak Ito menjawab bahwa titip tilang memang sudah dihapuskan sejak sekitar 2 bulan lalu. Jadi kalau melakukan pelanggaran lalu lintas dan mendapatkan tilang maka harus mengikuti sidang di PN Surabaya dan pengambilan barang bukti dilakukan di Kantor Kejaksaan di Jl.Sukomanunggal! Jauh banget!

Masih belum terpuaskan!

Oke, supaya lebih yakin lagi bahwa titip tilang sudah tidak ada maka saya mencoba bertanya ke Radio Suara Surabaya sebagai sebuah radio yang sangat konsen pada masalah lalu lintas. Tetapi berkali-kali menghubungi nomor telepon SS 031-5600000 dijawab oleh mbak-entah-siapa-namanya katanya nomornya masih sibuk :mrgreen:

Ya sudah, karena coba hubungi SS gak nyambung, sekarang saya tanya ke Anda saja, bagaimana menurut Anda? Barangkali punya pengetahuan atau pengalaman pribadi terkait masalah ini?

{ 13 comments… read them below or add one }

1 kucluk 25 January, 2010 at 1:13 am

wah.. diapusi pulisi awakmu lek…

sidang PN gak ribet blas,
teko – golek ruangan – mbayar – mulih
dan cukup dilakukan di PN jl. arjuno, kalo telat (tidak sesuai jadwal) baru ngurusnya ke jl.Sukomanunggal, disitu juga gak ribet
teko – golek loket – mbayar – mulih

tarif pelanggaran lalulintas antara 15 -25 rb untuk kendaraan bermotor

2 aRuL 25 January, 2010 at 1:37 am

mantap om khucluk….
btw tarif tilang sudah ratusan ribu lho,
dulu waktu sy ditilang di AR Hakim, sampe nunjukin laminating pasal2 pelanggaran yg sering dilakukan oleh pengendara motor…. nilainya mencengangkan yah ratusan ribu itu.

Trus katanya nitip tilang 20ribu.. duh kena deh :lol:
biar ngak lama2 dan sy pun menuntut keadilan, ta suruh sekalian tilang orang2 yg ngelanggar di keputih…. entah dilaksanakan apa ngak .. hehehe soalnya males langsung cabut :D

3 Dawam Multazam 25 January, 2010 at 6:37 am

alhamdulillah, belum pernah “melanggar” jadi ndak pernah ditilang. pernah sih ndak bawa STNK, tapi coz bawa “surat tugas” (kebetulan pas tugas di sekolahan) n aku mbandel, ya akhirnya dilepas juga. ;)

kalo masalah “titip”, aku punya pengalaman; selalu titip pembayaran pajak yang harusnya di samsat. aku titip ke pak Hudiono. :mrgreen:

4 kucluk 25 January, 2010 at 7:52 am

@arul : ratusan ribu kan nilai maksimal rul, berarti 20 ribu juga gpp kan.

5 olip 25 January, 2010 at 9:08 am

wah kucluk berpangalaman banget ketoge ….

6 Anang 25 January, 2010 at 10:41 am

Pulisine tau tak apusi. Cuma tak wehi 5ewu. Pengalaman bolak-balik. Ha.

7 Anton 25 January, 2010 at 12:03 pm

wis gak popolah … daripada ngentekke wektu ngurus-ngurus

8 Muji 25 January, 2010 at 12:51 pm

Titip Tilang itu hanya akal-akalan poltas buat nyari tambahan uang rokok.

9 gelandangan 25 January, 2010 at 4:39 pm

polisi kayak gitu perlu dikasihani mas…. mungkin gajinya masih kurang!!!

10 galihsatria 26 January, 2010 at 3:39 pm

Lewat Marka? Waduh, coba kalau itu diterapkan di Jakarta, bisa menambah ruwet kemacetan yang ada tuh. Aku melihat beberapa aturan yang jalan dengan baik di Surabaya tidak bisa diterapkan di Jakarta karena volume kendaraan yang terlalu banyak. Misalnya sepeda motor harus di jalur kiri, dan melewati marka di lampu merah itu tadi. ;-)

11 andikurnia 28 January, 2010 at 1:31 pm

wah, sepertinya pengalaman yang anda alami baru saja saya alami siang ini pak. Tepatnya di putar balik dari intiland tower ke arah basuki rahmat. Tiba tiba petugas menawarkan dua opsi, datang ke pengadilan sendiri atau dapat dititipkan kepada petugas.

Yah, dengan terpaksa uang 51ribu raib dari dompet, karena tanggal yang diajukan sama petugas crash. Minta hari lain, petugasnya malah jelasin panjang lebar yang sebenarnya nggak terlalu penting juga.

Yah, jadikan pengalaman yang berharga..

12 mas stein 2 February, 2010 at 10:55 am

kalo make slip biru kena berapa cak? maklum tanggal tua, polisi kan butuh makan juga :lol:

13 ericova 3 February, 2010 at 10:46 pm

periss mas sama cerita saya ! 1 minggu yang lalu saya jg kena tilang gr2 salah ambil jalan pdhl saya mau ke kiri..ditawari sidang , bayar atm atau bayar lokasi..stlh d jelasin akhirnya klo byr di tempat 51rb, saya nego dia g mau y sudah saya kasih 50 saja dia mau weleh2..
saya bingung dengan aturan maen skrg

Leave a Comment

Previous post:

Next post: