7 Kesalahan Paling Umum dalam Membangun Niche Site

Dalam artikel sebelumnya saya telah membahas bagaimana mendapatkan $100 per hari dari Google AdSense. Salah satu yang harus dilakukan adalah membuat beberapa niche site (website bertema spesifik) sekaligus dan rajin mengisinya dengan konten berkualitas.

Nah kali ini saya akan membahas 7 kesalahan paling umum dalam membangun niche site. Artikel ini mengacu pada tulisan kawan saya Chris Lee yang artikel aslinya ditulis dalam bahasa inggris.

Yang perlu diingat, membangun sebuah niche site haruslah fokus pada 2 hal. Pertama bagaimana membangun kepercayaan pembaca dengan menyajikan konten berkualitas. Kedua, bagaimana membangun backlink dari konten berkualitas tersebut untuk meningkatkan authority.

Nah, 7 kesalahan paling umum ini sangat terkait dengan 2 hal tadi. Selamat menyimak, semoga bermanfaat.

7 Kesalahan Paling Umum dalam Membangun Niche Site

Langsung saja berikut ini 7 kesalahan paling umum dalam membangun niche site menurut Chris Lee, dan ini sangat saya benarkan. Artinya saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Chris Lee ini.

Kesalahan 1: Menerbitkan artikel terlalu cepat

Ketika sedang membangun sebuah niche site, mungkin Anda merasa website Anda masih kosong, terlalu sedikit artikel. Maka yang Anda lakukan kemudian adalah berlomba-lomba mengisinya dengan artikel secepat mungkin.

Yang terjadi kemudian adalah artikel yang ditulis memiliki kualitas yang kurang bagus karena dikerjakan sedapatnya, tanpa riset mendalam, yang penting lekas ada artikelnya.

Juga, artikel yang ditulis memiliki jumlah kalimat yang sangat sedikit. Antara 100 hingga 300 kata. Itu sungguh tidak cukup. Sebuah artikel berkualitas setidaknya terdiri dari 1000 kata untuk dapat membahas sebuah permasalahan secara mendalam. Jika Anda hanya menulis 300 kata, mungkin yang dibahas hanya sekilas saja, dan itu tidak memberikan nilai tambah bagi pembaca Anda. Jika tidak mendapatkan nilai tambah, maka jangan harap pembaca akan kembali lagi di lain waktu.

Sekali lagi, setiap artikel haruslah mengacu pada 2 prinsip: meningkatkan kualitas website, dan membangun backlink. Jika Anda menulis artikel berkualitas, maka orang tidak segan untuk memberikan backlink secara natural ke artikel Anda. Jika Anda menulis artikel yang asal-asalan, kembali lagi saja tidak mau, apalagi memberikan backlink.

Yang harus diingat lagi, website yang masih kosong bukanlah hal yang buruk. Karena memang masih baru. Lebih baik menulis 1 atau 2 artikel secara pelan-pelan namun berkualitas, daripada menulis banyak artikel yang tidak ada artinya sama sekali.

Ini bukan tentang berapa banyak artikel yang Anda tulis dengan cepat, tapi seberapa besar kontribusi artikel tersebut dalam mendatangkan traffic pembaca?

  • Sebuah artikel bisa mendatangkan traffic lebih banyak dibanding traffic yang dihasilkan 1000 artikel yang lain
  • Sebuah artikel dengan traffic yang banyak dan berkualitas dapat mendatangkan pendapatan yang besar untuk Anda

Kesalahan 2: Membeli Artikel Murah

Nah, ini juga sangat sering terjadi ketika seseorang sedang membangun niche site. Karena ingin websitenya segera penuh dengan artikel, sedangkan dia sendiri malas menulis, maka yang dia lakukan adalah membeli banyak artikel sekaligus dengan harga sekian puluh ribu rupiah atau sekian ratus ribu rupiah.

Beberapa content writer lokal menjual artikel seharga 3 ribu rupiah per artikel. Apakah Anda yakin seseorang mau dibayar 3 ribu rupiah untuk menulis artikel berkualitas sepanjang minimal 1000 atau 2000 kata?

Logikanya, untuk menulis artikel sepanjang itu seseorang yang ahli di bidangnya sekalipun memerlukan waktu setidaknya 2 jam untuk 1 artikel. Itu belum termasuk memikirkan idenya dan menyusun alurnya. Maka dalam sehari (8 jam kerja) dia hanya bisa menulis 4 artikel. Maka sehari dia hanya mendapatkan income 12 ribu rupiah saja (3 ribu per artikel x 4 artikel). Apakah mungkin? Saya yakin tidak mau, dan tidak mungkin.

Beda lagi jika sebuah artikel dihargai minimal 50 ribu rupiah. Menurut saya masih masuk akal dengan hitung-hitungan di atas.

Namun demikian, meskipun masuk akal, setidaknya Anda tidak memulai sebuah niche site dengan artikel yang Anda pesan ke penulis konten. Sebaiknya Anda membangunnya sendiri dari nol. Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru untuk segera mendapatkan hasil dari Google Adsense.

Ketika niche site Anda sudah mulai mendapatkan kepercayaan pembaca, dan trafficnya sudah tinggi, maka tidak masalah sesekali Anda mengisinya dengan artikel pesanan, dengan catatan artikel tersebut haruslah sesuai dengan gaya penulisan Anda, dan temanya haruslah sama dengan niche yang Anda bangun.

Setidaknya Anda menulis sendiri 20 artikel pertama di setiap niche site Anda. Setelah itu boleh selang seling antara artikel yang ditulis penulis konten, dan artikel karya Anda sendiri.

Kesalahan 3: Fokus pada Banyak Sumber Traffic

Nah, ini juga sering dilakukan oleh mereka yang sedang merintis sebuah niche site. Mereka sibuk membagikan artikelnya melalui akun-akun sosial media mereka, seperti facebook, twitter, instagram, pinterest, dan sebagainya. Bahkan tidak jarang mereka membuat banyak akun kloningan / klonengan / fake account untuk menyebarkan link ke artikel mereka.

Apakah cara tersebut efektif? Mungkin saja efektif. Tapi Anda akan capek sendiri dan waktu Anda akan habis untuk menyebarkan link tersebut. Dan bisa-bisa Anda malah akan menjadi spammer ketimbang penulis artikel yang handal.

Mengapa tidak menjaring traffic dari social media? Karena social media itu sifatnya sambil lalu, bergerak terlalu cepat. Anda harus terus ‘nyepam’ supaya terus mendapatkan traffic. Berhenti ‘nyepam’ maka trafficnya juga berhenti.

Lalu yang benar seperti apa? Jika Anda membangun niche site, maka Anda harus fokus pada 1 sumber traffic saja, yaitu SEARCH ENGINE. Maka yang harus dilakukan adalah meningkatkan SEO dari website Anda. Dan menulis artikel yang berkualitas dan membangun link ke artikel itu adalah salah satu faktor SEO yang paling penting.

Kesalahan 4: Niche yang terlalu sempit

Nah ini yang sering tidak diperhatikan. Membangun niche site tanpa melakukan riset dulu di search engine. Setelah menulis capek-capek, ternyata pengunjungnya tidak juga meningkat. Padahal sudah melakukan SEO. Kok bisa?

Jangan-jangan niche yang Anda sasar terlalu sempit sehingga tidak memberikan ruang yang cukup bagi website Anda untuk berkembang. Misalnya sebuah niche yang volume pencariannya di search engine hanya beberapa ratus, atau hanya beberapa ribu pencarian per hari. Maka meskipun website Anda mampu menduduki urutan paling atas, tidak banyak traffic yang bisa didapatkan.

Maka bangunlah niche site, dimana volume pencarian atas kata kunci terkait niche tersebut cukup besar untuk dapat mendatangkan traffic ke website Anda. Dan harus diperhatikan pula, volume pencarian tersebut haruslah cukup besar sehingga Anda dapat mengembangkan niche site Anda hingga ke ratusan artikel dengan pembahasan berbeda-beda namun masih dalam niche yang sama.

Kesalahan 5: Membeli Link

Meskipun Google terus merubah algoritma pencarian mereka, nyatanya masih banyak saja orang yang menawarkan paket link. Sekian ratus link dihargai sekian dolar. Apakah itu bagus untuk membangun authority dari niche site Anda? TIDAK! Justru bisa membahayakan niche site Anda.

Jangan pernah berfikir untuk membeli link. Dapatkanlah link secara natural. Yaitu dengan menulis artikel berkualitas dan dibutuhkan banyak orang. Dengan demikian, pembaca yang merasa mendapatkan manfaat dari artikel Anda akan dengan sukarela membagikannya ke komunitasnya, baik melalui media sosial maupun melalui blog post, dan biasanya sebuah link akan diarahkan ke artikel Anda yang dinilai bermanfaat tadi 🙂

Cara lain dalam membangun link adalah melalui komentar di blog lain maupun forum-forum diskusi yang rame. Namun harus diingat, membangun link melalui komentar dan forum tidak akan banyak mendukung niche site Anda dalam mencapai ranking di mesin pencari. Cara itu hanya efektif untuk meningkatkan traffic ke niche site baru Anda.

Kesalahan 6: Membuat artikel penuh keyword

Mungkin Anda pernah mendengar bahwa keyword density itu penting. Ya, BENAR! Tapi itu dulu. Sekarang sudah beda lagi. Google terus berbenah dan tidak lagi terlalu memperhatikan keyword density.

Sebentar, apa sih keyword density itu? Misalnya Anda membidik “obat pelangsing”, lalu kemudian Anda mengulang-ulang “obat pelangsing” itu dalam artikel Anda. Seringkali orang mengulang-ulang keyword itu terlalu sering, sehingga satu artikel isinya seperti mengulang-ulang keyword itu tadi. Sungguh membosankan bagi pembaca.

Maka tidak ada artinya lagi Anda menulis artikel yang penuh dengan keyword. Biasanya dulu 1 artikel setidaknya mengandung minimal 4% keyword yang Anda bidik. Lalu Google merubah algoritmanya.

Maka jika Anda berpaku pada keyword density, Anda akan capek sendiri dan menghabiskan banyak waktu untuk menempatkan kata kunci tadi.

Sebaiknya Anda menulis secara natural saja. Mengalir saja. Membahas sesuatu secara sistematis, runut dan jelas sehingga mudah difahami pembaca. Pembaca mencari sesuatu di google untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka. Ketika mereka menemukan artikel Anda, maka artikel itu harus dapat menjawabnya dengan memuaskan. Itu akan lebih bermanfaat ketimbang terlalu sibuk memikirkan keyword density.

Kesalahan 7: Desain dan tata letak yang buruk

Nah kesalahan umum yang terakhir adalah niche site yang memiliki desain dan tata letak yang buruk sehingga membuat pembaca tidak betah. Misalnya desain yang penuh dengan gambar animasi, background yang berat dan iklan pop-up yang bertebaran di mana-mana, apalagi jika penuh jebakan link.

Bukan berarti Anda harus membeli theme seharga ratusan dolar. Jika Anda tidak punya cukup skill dalam hal desain, buatlah tampilan yang:

  1. simpel, bersih dan teks yang mudah dibaca
  2. spasi / jarak antar elemen yang cukup sehingga tidak terlihat ruwet
  3. formatting teks yang baik

Penulisan yang baik misalnya dengan membuat paragraf yang sederhana. Jumlah kata dalam kalimat tidak begitu banyak. Dan jumlah kalimat dalam paragraf yang tidak terlalu banyak pula

Kemudian penggunaan H1 dan H2 yang sesuai, penekanan dengan menebalkan tulisan (bold) dan sebagainya, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami tulisan Anda.

Kesimpulan

Segalanya terus berkembang. Terus berubah. Jika ingin sukses, maka kita harus selalu siap untuk terus memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan masa lalu sehingga bisa lebih sukses dan lebih sukses lagi.

Semoga Anda semua mendapatkan manfaat dari artikel ini. Seperti saya sebutkan sebelumnya, artikel ini bersumber pada tulisan Chris Lee dan saya terjemahkan secara bebas dan tambahan dan pengurangan di sana-sini.

Salam,
Budiono Sukses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *